Skip navigation

Sang perusak citra Islam kali ini mendapatkan dukungan penuh dari pendukungnya di Amerika. Bahkan pihak Hollywood siap menopang kebusukan negara Barat tersebut. (SuaraMedia News) Selepas Obama menampakkan sikap bergitu bersahabat dengan Raja Arab Saudi King Abdullah pekan lalu di Eropa, sikap sebaliknya diperlihatkan oleh seorang politikus Belanda, Geert Wilders. Dia berkata bahwa dia akan membuat gebrakan untuk menyudutkan Islam dengan membuat kelanjutan atau versi baru video berjudul Fitna yang beberapa waktu lampau sempat menggemparkan dan memantik emosi dunia Islam. Video yang kemudian akan dijadikan film berdurasi jauh lebih panjang dari yang sebelumnya itu, direncanakan akan rilis 2010 dan didukung penuh oleh sineas Amerika (Hollywood) atau Inggris.

Film pendek 17 menit yang dibuat Wilders dan beritanya disebarluaskan media massa pada Maret tahun 2008 itu, telah banyak memicu kontroversi khususnya dalam masyarakat Islam dan dalam masyarakat dunia pada umumnya. Film tersebut mengemukakan banyak fitnah terhadap Islam. Film tersebut menyebut bahwa Islam menghalalkan kekerasan, tentu saja hal itu tidak benar.

 Wilders berkata bahwa film tersebut akan difokuskan pada fenomena dan ancaman Islam serta dampak buruk Islamisasi yang mendera Eropa dan Amerika.

Dalam Film yang merupakan fitnah besar bagi umat Islam itu, Wilders ingin menyampaikan banyak pesan kebencian pada Islam. Melalui film tersebut, dia ingin berkata bahwa Islam sebenarnya bukan agama melainkan sebuah ideologi totaliter yang berkeinginan mendominasi dunia dan memaksa semua non-muslim untuk tunduk. Tidak ada kebebasan dan persamaan hak asasi dalam Islam. Islam bukan kedamaian melainkan kekerasan. Dia pun memutarbalikkan fakta dari banyak ayat-ayat Al Quran guna menunjukkan bahwa Islam itu penuh dengan kekerasan, ancaman-ancaman, kebencian dan monopoli, terorisme, hukuman-hukuman mengerikan, yang semuanya itu sejatinya tak lain hanyalah sebuah fitnah bertujuan menginjak-injak keluhuran Islam.

Dalam film tersebut juga disebutkan bahwa segala ketidaktoleransian, kekerasan, dan teror yang dilakukan umat Islam bukanlkah disebabkan oleh tekanan barat dan kemiskinan, namun dikarenakan oleh ideologi islam sendiri.

Tidak begitu lama setelah film tersebut dirilis di tahun 2008, tanpa diduga olehnya, tekanan dan demonstrasi besar-besaran dari dunia Islam terjadi di mana-mana. Bahkan Kerajaan Yordania mengancam akan menggugat Fitna Wilders ke Mahkamah Tinggi dunia dengan tuduhan “penistaan Islam”. Film itu pun diboikot bahkan disebut pula sebagai pelecehan terhadap arti film itu sendiri. Film tidak seharusnya penuh provokasi  dan kebohongan jahat seperti itu.alt

Intimidasi dan protes keras terhadap Wilders tidak hanya datang dari dunia Islam. Belanda sebagai tempat asal lahirnya film itu pun menyebut film tersebut sebagai “penghasut dan pemantik kebencian” serta disebut pula sebagai biang kerasisan. Padahal rasisme sangat dikutuk di Belanda. Di Perancis, sebuah Lembaga Hak Asasi menyebut Wilders sebagai orang yang “bermulut besar dan cuma bisa berbicara kebencian” bila beropini mengenai Islam. Di Inggris, dia diprotes dan tidak diijinkan masuk gedung parlemen ketika hendak memamerkan film Fitna di sana.

Wilders telah menjelma jadi hantu yang selalu memojokkan umat Islam. Dia pun telah menjadi seorang rasis dan fasis dalam media perpolitikan sehat di Belanda. Terhadap agama lain, dia tak akan memerlakukan hal yang sama seperti perlakuannya terhadap Islam. Relativitas dalam menilai sesuatu nampaknya telah menjadi norma yang berlaku. Sehingga kekejaman dan fitnah yang dilakukan pun nampak seperti “White Guilty” alias dosa putih atau dosa yang lumrah.

Wilders bahkan menyayangkan sikap-sikap para pemimpin di Eropa dan Amerika yang kontra dengan pendapatnya yang jelas-jelas tidak adil dan melecehkan. “Sayang, hanya sedikit pemimpin yang menganggap bahwa kebebasan berpendapat jauh lebih berharga dari sekadar menenangkan kemarahan Islam”, demikian ucapannya.

Wilders berkata bahwa film yang akan dibuat di tahun 2010 tersebut nantinya tidak sama persis dengan pendahulunya. Film tersebut akan diadaptasi ulang namun masih  berkisar pada bentuk ketotaliteran di negara-negara Islam. “Film tersebut tidak akan terlampau jauh berbeda dengan yang dahulu” ucapnya. Yang jelas, film tersebut tetap memiliki inti atau ide pokok sebuah sikap diskriminatif terhadap Islam.”

Wilders mengaku bahwa sebenarnya dia tidak benci terhadap umat Islam pada umumnya. Dia hanya manganggap bahwa imigrasi besar-besaran umat Islam ke negeri-negeri Eropa akan mengancam proses demokrasi dan kebebasan berekspresi di Barat. Dia takut nilai-nilai Islam yang mulia menggantikan peradaban akal manusianya yang penuh nafsu dan egois. Adanya Bank Halal (Syariah), pelajaran Jihad di sekolah dasar, penolakan terhadap homoseks, dianggap sebagai pencemaran proses demokrasi dan kebebasan.

Selain ditopang oleh seorang politikus seperti Wilders, film tersebut juga didukung penuh oleh seorang perempuan politikus berdarah Somalia, Ayaan Hirsi Ali dan seorang sutradara Theo Van Gogh.

Dikutip Dari: Suaramedia.com

%d blogger menyukai ini: