Skip navigation

 

 

Perawat saat ini adalah satu profesi yang sedang dicari di Negara-negara maju dengan adanya nursing shortage. Di Kuwait sekalipun profesi ini dihargai dengan baik dengan income yang termasuk dalam kelas menengah. Kita perawat ekspatriat (Asing) rata-rata berpenghasilan separuh dokter ekspatriat, demikianpula untuk perawat Kuwaity rata-rata gajinya mereka separuh dokternya (sebagian besar negara maju, hampir sama).

 

Jangan Tanya di Indonesia ???

 

Gaji perawat mungkin 1 : 10 dengan dokter umum atau 1: 100 dengan dokter spesialis, namun jam kerja dan tuntutan kerja lebih besar. Disini perawat juga lebih dihargai (kadang-kadang saja pasien dan keluarga rewel dan suka complain), namun untuk pelayanan publik, administrasi, dsb kalau kita bilang “I am a nurse in ,…… hospital ” – mereka umumnya mempertimbangkan dan “respect”.

 

Terlebih lagi di Negara-negara seperti Amerika Serikat, Australia, Inggris dan Negara maju lainnya. Kadang hal tersebut yang membuat sebagian kecil perawat Indonesia yang saat ini bekerja di luar negeri sedikit senang, berbeda dengan saat di negara sendiri.

 

Buat saya yang kebetulan tidak pernah bekerja di RS di Indonesia sebagai staf full time dan hanya menjadi CI di RS saja (itupun hanya untuk membimbing mahasiswa AKPER/STIKES). Memang belum pernah merasakan resiko menjadi perawat. Katakanlah gaji perawat di Indonesia Rp 1 juta/bulan, rasanya kalau dihitung dengan biaya yang dikeluarkan saat kuliah amatlah “jauh panggang dari api” (panas tidak dingin juga tidak jelas).

 

Coba saja hitung Kapan BEP (Break Event Point-nya) ????

 

Rata-rata SPP AKPER/STIKES Swasta per semester sekarang ini Rp. 5 juta, biaya hidup (kost, makan dan buku) sekitar Rp. 1,5 juta maka per semester uang untuk kuliah dll yang perlu dikeluarkan oleh orang tua adalah Rp 14 juta per semester. Sehingga katakanlah untuk AKPER total investasi orang tua adalah Rp. 14 juta x 6 semester = Rp. 84 juta (belum dengan lain2) sampai lulus. Untuk S1 Keperawatan tentunya menjadi lebih besar, katakanlah dengan 9 semester berarti menjadi Rp. 126 juta.

 

Mungkin agak sedikit berbeda dengan mereka yang kuliah di AKPER Negeri, atau PTN (Fakultas Ilmu Keperawatan). Namun katakanlah mereka yang kuliah di negeri separuhnya dari yang swasta (salah satu teman saya baru diwisuda di ekstension FIK UI, habis 60 juta). Alhamdulillah sekali waktu saya kuliah dapat PTN yang sama (Program A 1992 , SPP nya baru 250 rb/smstr, kost di Percetakan Negara 90 rb per bulan, makan lumayan dah mahal juga 10 rb per hari, buku sama saja). Inilah yang disebut INFLASI . Dan 10 tahun lagi mungkin saja untuk menjadi perawat biaya yang dikeluarkan orang tua menjadi 2 kali lipatnya .

 

Kalau kita saat ini bekerja jadi perawat di Indonesia katakanlah bekerja di 2 RS total income 2 juta sebulan, sabetan 1 juta sebulan (Biaya hidup rata-rata di Jakarta 1,5 juta sebulan, cicilan rumah 1 juta sebulan, maka saving 500 rb perbulan). Untuk mengembalikan Modal Kuliah (BEP) berarti 500 rb x 12 = 6 juta pertahun saving kita, maka untuk BEP kuliah di AKPER adalah 14 tahun dan S1 berarti 21 tahun.

 

Lah kan gaji kita naik juga, OK tetapi pertimbangkan harga-harga (Inflasi) juga naik.

Sekarang ini kalau kita bekerja di LN mungkin BEP nya bisa dipercepat (Pensiun Dini). Katakan saja yang tadinya kita saving pertahun, di LN bisa kita saving jadi per 2 bulan misalnya, maka BEP AKPER adalah 84 juta : 36 juta/tahun = 2 tahun , 3 bulan dan S1 Keperawatan : 3 , 5 tahun hmmmm Lumayan kan jauhnya !!!!

 

Kita sebagai perawat tidak usahlah membandingkan dengan BEP Profesi lain, cukup tetap yakin dan fokus bahwa menjadi perawat adalah hal yang terbaik buat kita. Dan sedikit SMART dalam mengembangkan kesejahteraan, pendidikan dan martabat profesi.

 

Pesan saya (JANGAN DIIKUTI Kalau TIDAK YAKIN). Kalau kita masih bergaji di kisaran UMR (+- 10%) (Jakarta the regional minimum wage (UMR) for 2006 to Rp 816.000 ($93) per month) coba intip peluang yang lain dan buru-buru keluar saja.

 

Dan coba pertimbangkan hitung Gaji kita dalam jam (JANGAN dalam BULAN) !!!.

1 juta sebulan = Rp. 6.250 (perjam) total jam kerja 40 jam/minggu rata-rata

5 juta sebulan = Rp. 31.250 (perjam)

10 juta sebulan = Rp. 62.500 (perjam)

50 juta sebulan = Rp. 312.500 (perjam)

Dikutip dari : WWW.INNA-PPNI.OR.ID

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: